Seorang laki-laki sedang duduk di hadapan seorang pemuda tampak sedang mengisi berkas surveyEry sedang melakukan survei KAP (Knowledge, Attitude, and Practice) untuk anak muda di Desa Totoharjo

Dulu, hidup Ery hampir sama seperti anak muda lain. Ia bekerja di PT. Southeast Asia Pipe Industries, punya rencana masa depan yang jelas, dan belum lama menikah. Tidak pernah terbayang di benaknya, ia akan menjadi penyandang disabilitas. Nama lengkapnya Moh. Ery Syarif, dari Desa Totoharjo, orang-orang memanggilnya Ery. Ia lahir 26 Juni 1995.

Semuanya berubah setelah kecelakaan motor bersama istrinya. Kakinya harus diamputasi, dan sejak itu, ia memakai kaki palsu. Proses pengobatannya cukup panjang, dan akhirnya, Ery tidak bisa melanjutkan pekerjaannya di pabrik. Ia pulang ke Desa Totoharjo, fisiknya berubah, perasaannya campur aduk karena belum sepenuhnya bisa menerima keadaan.

Di awal menjadi penyandang disabilitas, Ery sering merasa minder. Ia melihat penyandang disabilitas, termasuk dirinya sendiri, sebagai sosok yang “tidak sekuat dulu.” Ia jarang keluar rumah atau mengikuti kegiatan. Tapi hidup tetap berjalan, ia harus bertahan. Perlahan, ia mulai membuka jasa servis komputer di desa. Ia juga bekerja di kantor desa guna menambah penghasilan. Dari situ, Ery mulai belajar lagi berinteraksi, dan secara perlahan merasa kalau dirinya masih punya peran.

Perubahan paling besar datang ketika Ery bergabung menjadi relawan di Program Green Pro. Ia mengikuti kegiatan survei KAP (Knowledge, Attitude, and Practice) untuk anak muda di desanya. Sebelum terjun ke lapangan, para relawan mendapat pelatihan tentang cara mendata, juga belajar mengenai penyandang disabilitas dan bagaimana cara berinteraksi dengan penyandang disabilitas.

Awalnya, Ery mengira pelatihan itu hanya formalitas. Tapi semakin lama ia mendengar materinya, semakin ia merasa tersentuh. Ia sadar, selama ini ia sendiri masih melihat disabilitas dari sudut pandang yang sempit. Baru saat itu Ery paham, penyandang disabilitas bukan orang yang harus dikasihani. Mereka juga punya potensi, pengetahuan, dan mimpi. Sama aja, cuma kondisinya berbeda.

Waktu bekerja di lapangan, Ery mendata anak muda di desanya. Mereka bercerita soal keseharian, soal usaha kecil yang sedang dirintis, tentang keinginan tetap mandiri. Dari pertemuan-pertemuan itu, Ery menyadari, aset yang paling berharga adalah pikiran, meskipun fisik memiliki hambatan ketika kita bisa menggunakan pikiran kita, maka kita tetap bisa melanjutkan kehidupan.

Sejak itu, pandangan Ery berubah. Ia tidak lagi menganggap dirinya “kurang,” tapi sebagai seseorang yang sedang berproses. Ia menjadi semakin percaya diri bicara di depan orang lain. Bagi Ery, Program Green Pro bukan sekadar soal data atau pelatihan. Ini soal menemukan kembali harga dirinya. Dari pekerja pabrik yang kehilangan pekerjaan karena kecelakaan, sekarang ia jadi relawan yang membantu orang lain, sambil menguatkan dirinya sendiri. Ia belajar, menjadi penyandang disabilitas bukan akhir segalanya—ini justru awal dari cara baru dalam memandang hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *