Bayu Aji Santosa sedang presentasi bersama satu temannyaBayu Aji Santosa di salah satu sesi kegiatan Green Pro

Bayu Aji Santosa adalah seorang pemuda dari Desa Totoharjo yang, seperti banyak pemuda desa lainnya, menjalani hari-hari dengan rutinitas yang berjalan apa adanya. Isu lingkungan dan ekonomi hijau baginya terdengar jauh, rumit, dan tidak berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Ia meyakini bahwa urusan lingkungan adalah tanggung jawab pemerintah atau pihak luar, bukan sesuatu yang bisa disentuh oleh pemuda desa sepertinya.

Namun, di balik sikap itu, Bayu menyimpan kegelisahan yang terus tumbuh. Lapangan kerja di desa semakin terbatas, minat pemuda untuk menjadi wirausaha rendah, dan ekonomi lokal terasa stagnan—bahkan cenderung memburuk. Alam pun menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Cuaca semakin tidak menentu, sulit diprediksi, bahkan dengan teknologi canggih sekalipun. Kondisi ini perlahan memunculkan pertanyaan dalam benaknya: sampai kapan desa ini akan bertahan jika semuanya berjalan seperti sekarang?

Titik balik itu datang ketika Bayu mendengar tentang kegiatan Green Pro yang mulai diperkenalkan di desanya. Sebuah inisiatif yang membawa gagasan ekonomi hijau berbasis komunitas. Meski masih berada pada tahap sosialisasi dan perekrutan relawan, narasi yang dibawa Green Pro terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, Bayu mendengar bahwa lingkungan dan ekonomi tidak harus berdiri terpisah, tetapi justru harus saling terhubung dalam sebuah konsep ekonomi yang berwawasan hijau.

Rasa ingin tahu mendorongnya untuk hadir. Awalnya, Bayu hanya duduk sebagai pendengar. Namun, semakin sering ia mengikuti kegiatan, terutama berbagai Forum Group Discussion (FGD) di tingkat basis, semakin luas pula cakrawala berpikirnya. Ia mendengar cerita dari sesama peternak ruminansia, petani muda, pengolah makanan lokal, pegiat wisata desa, hingga fasilitator program tentang potensi ekonomi lokal yang ramah lingkungan, praktik-praktik sederhana yang mampu memberi dampak besar, serta peran strategis pemuda sebagai penggerak perubahan.

Di titik inilah hati dan pikirannya mulai terbuka. Bayu mulai berani bertanya, meski awalnya hanya disampaikan secara personal kepada fasilitator di luar forum resmi. Ia menyadari bahwa pengetahuan adalah pintu awal perubahan, dan bahwa ketidaktahuan selama ini justru menjadi penghalang terbesar. Dorongan dari dalam dirinya semakin kuat, hingga akhirnya ia mengambil keputusan kecil namun bermakna: mendaftarkan diri sebagai relawan Green Pro.

Keputusan itu belum menghadirkan dampak ekonomi langsung, belum pula melahirkan program besar. Namun, keputusan tersebut telah mengubah cara berpikir Bayu. Ia belajar beralih dari sikap pasif menjadi partisipatif, dari sekadar menunggu peluang menjadi bagian dari proses, dan dari hanya melihat masalah menjadi ikut merumuskan solusi. Ia memahami bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari aksi besar, melainkan dari keberanian untuk terlibat sejak awal.

Green Pro mungkin masih berada pada fase awal, tetapi bagi Bayu, perjalanan ini telah membuka jalan baru. Ia belum mengubah sistem, namun ia telah mengubah arah hidupnya. Dan perubahan cara berpikir seorang pemuda seperti Bayu Aji Santosa menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya ekonomi hijau berbasis komunitas di Desa Totoharjo pada masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *