Tim Paluma Nusantara melakukan kunjungan ke Timor Leste dalam rangka Learning Visit dan South–South Knowledge Exchange Program SPRINT II (Strengthening Partnership for Community Resilience in Indonesia and Timor-Leste). Perwakilan Paluma Nusantara terdiri atas Nanang Priyana selaku Manajer Proyek SPRINT, Elma Dwi Tami perwakilan dari Desa Rajabasa, dan Yuni Budiarti perwakilan dari Desa Canti.
Kegiatan dimulai sejak hari pertama kedatangan di Timor Leste. Setibanya di Bandara Dili, rombongan langsung menuju ke Kecamatan Maubisse dengan menempuh perjalanan selama tiga jam. Kecamatan Maubisse yang berada di kawasan dataran tinggi terletak di Kabupaten Ainaro. Kegiatan diawali dengan diskusi bersama NGO MAHARU, mitra ADPC di Timor Leste. Dalam kegiatan ini, perwakilan Paluma Nusantara bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan Program SPRINT.
Selepas diskusi di Kantor MAHARU, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke salah satu lokasi dampingan Program SPRINT, yaitu Desa Mulo. Dalam kunjungan tersebut, rombongan berdiskusi dengan kelompok tani Hadomi Moris ba Faturu yang mengembangkan pertanian organik dengan menanam aneka sayuran. Kelompok tani tersebut mengelola lahan bersama untuk pelatihan dan pembibitan, yang hasilnya kemudian diterapkan di lahan masing-masing anggota. Kelompok yang beranggotakan 25 keluarga itu juga mengembangkan kegiatan simpan pinjam. Kegiatan simpan pinjam berjalan dengan baik karena kelompok menerapkan aturan dan sanksi yang telah disepakati bersama.
Kegiatan hari pertama diakhiri dengan kunjungan ke Kantor Kecamatan Maubisse. Rombongan diterima oleh Camat Maubisse untuk berdiskusi mengenai pengembangan Program SPRINT di Kecamatan Maubisse serta dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan program.
Kunjungan Lapangan ke Desa Ailutu
Pada hari kedua di Timor Leste, Tim Paluma Nusantara melakukan kunjungan lapangan ke Desa Ailutu, Kecamatan Maubisse. Kunjungan hari kedua cukup menguras tenaga karena tim harus berjalan kaki naik turun perbukitan. Akses kendaraan hanya sampai jalan utama; selebihnya rombongan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pelaksanaan Program SPRINT di Desa Ailutu difokuskan pada penyediaan air bersih dan pengembangan pertanian sayuran organik.
Pada pagi hari, tim mengamati penyediaan sarana air bersih. Selanjutnya, tim berjalan naik bukit menuju sumber air yang berada di cerukan bukit. Perjalanan menuju sumber air ditempuh dengan berjalan kaki sejauh sekitar 600 meter. Selama ini, masyarakat harus berjalan kaki sejauh 2–3 kilometer setiap hari untuk mengambil air. Para ibu dan anak membawa jeriken sambil berjalan kaki. Melalui Program SPRINT, air dialirkan dan ditampung di lokasi yang lebih dekat dengan permukiman sehingga masyarakat tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Mulo. Kali ini, tim bertemu dengan Kelompok Haburas Unidade ba Mudansa Moris yang berada di daerah lembah. Untuk mencapai lokasi, tim harus berjalan kaki menuruni bukit sejauh 1,2 kilometer melalui jalur terjal. Pertemuan dilakukan di sekretariat kelompok yang berada di rumah salah satu anggota. Mereka bahkan mendirikan tenda dari bambu untuk menyambut rombongan dari Indonesia.
Kelompok Haburas Unidade ba Mudansa Moris beranggotakan 49 orang, terdiri atas laki-laki dan perempuan. Selain bergerak di bidang pertanian—khususnya kopi—kelompok ini juga mengelola kegiatan simpan pinjam. Dengan modal awal sebesar 525 USD dari anggota, kelompok memperoleh tambahan sebesar 1.500 USD dari Program SPRINT. Setelah dua tahun, perputaran dana meningkat menjadi 4.500 USD. Kini, kelompok tidak hanya melayani anggota, tetapi juga masyarakat umum yang bukan anggota.

Di Desa Mulo, rombongan juga meninjau proses pembangunan bak penampung air bersih yang akan digunakan warga. Sumber air berada di tanah milik empat orang yang telah memberikan izin kepada warga untuk memanfaatkan air tersebut. Sebelum proses pembangunan dilakukan, diadakan upacara adat sebagai penanda pemberian izin dari pemilik lahan. Selama ini, sumber air dimanfaatkan dalam kondisi terbuka sehingga rentan tercemar oleh ternak dan sumber kontaminasi lainnya. Dengan adanya bak penampung, keamanan dan kebersihan air konsumsi masyarakat dapat lebih terjamin.
Pada sore hari, tim berpindah ke Ainaro yang merupakan ibu kota Kabupaten Ainaro. Kegiatan hari kedua ditutup dengan diskusi bersama NGO NOFIFALA, mitra ADPC lainnya dalam pelaksanaan Program SPRINT di Timor Leste. Diskusi berlangsung di aula hotel dan berisi pertukaran pengalaman dalam implementasi Program SPRINT antara NOFIFALA, Paluma Nusantara, dan Mitra Bentala.