foto bersama

Lampung Selatan, Sejumlah anggota kelompok kriya dari program Green Pro mengikuti Workshop Kriya Lampung Selatan: “Konektivitas Ekosistem Kriya”. Kegiatan ini digelar selama dua hari, Senin-Selasa, 12-13 Oktober 2026, di Siger Creative Hub, Kabupaten Lampung Selatan.

Workshop ini diselenggarakan oleh Direktorat Kriya, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif. Sekitar 50 pelaku usaha subsektor kriya yang direkomendasikan oleh Dinas Pariwisata serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Lampung Selatan mengikuti kegiatan ini.

Memperkuat Ekosistem Kriya

Kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan yang masih dihadapi pelaku kriya, mulai dari terbatasnya akses terhadap mitra bisnis dan jaringan distribusi, persyaratan pembiayaan, hingga kesiapan memasarkan produk lewat kanal digital dan memasuki pasar ritel modern.

ruangan kegitan, yang ada narasumber sedang memberikan materi di depan

Lewat pemaparan materi, diskusi interaktif, dan studi kasus bersama pakar dan praktisi, peserta dibekali wawasan praktis dalam tiga topik utama:

  • Membangun jejaring usaha dan kolaborasi untuk memperluas pasar, meliputi strategi kemitraan berkelanjutan, kolaborasi dengan organisasi pengusaha dan mitra bisnis, serta perluasan akses pasar melalui distribusi dan promosi.
  • Akses pembiayaan bagi pelaku ekraf kriya, meliputi alternatif sumber pembiayaan, persyaratan dan mekanisme pengajuan, pencatatan keuangan sederhana, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta cara meningkatkan kredibilitas usaha di mata pemberi pembiayaan.
  • Strategi digitalisasi dan masuk ke pasar ritel modern, meliputi pemanfaatan platform digital dan e-commerce, penguatan identitas merek, katalog digital, foto dan narasi produk, serta pemenuhan standar kualitas, kemasan, dan penetapan harga untuk pasar ritel modern.

Materi tersebut disampaikan oleh narasumber dari Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI). Sambutan pembukaan kegiatan disampaikan oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu.

Kehadiran GreeNovazi

Bagi anggota GreeNovazi, workshop ini menjadi kesempatan memperluas jejaring dan memperdalam pemahaman tentang pengembangan usaha. GreeNovazi merupakan kelompok kriya binaan program Green Pro yang diisi anak-anak muda berusia 18 hingga 35 tahun. Mereka mengolah limbah kulit menjadi produk suvenir bernilai guna, seperti gantungan kunci, sarung korek, dan card holder.

Pemanfaatan limbah kulit sebagai bahan baku menunjukkan bahwa kriya dapat berjalan seiring dengan semangat keberlanjutan. Di tangan generasi muda, limbah yang kerap terbuang diubah menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi. Materi tentang penguatan identitas merek, katalog digital, foto produk, dan narasi produk (product storytelling) pun relevan bagi GreeNovazi untuk memperkenalkan nilai ramah lingkungan di balik setiap produknya kepada calon pembeli dan mitra usaha, terutama lewat kanal digital yang akrab bagi anak muda.

Kegiatan ini juga diharapkan mendorong konektivitas antara pelaku kriya dengan organisasi pengusaha, lembaga pembiayaan, mitra pemasaran, dan pemangku kepentingan lainnya, serta mendukung terbentuknya ekosistem Creative Hub yang terintegrasi di Lampung Selatan.

Dengan bekal materi dan jejaring baru, para pelaku kriya muda, termasuk anggota GreeNovazi, diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dan daya saing usaha serta memanfaatkan peluang perluasan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *