Lampung Selatan, (8-9/9/26) Pengembangan ekonomi hijau membutuhkan lebih dari sekadar ide dan program. Dibutuhkan komitmen, kolaborasi, serta ruang bagi kaum muda untuk terlibat dan mengambil peran dalam pembangunan yang berkelanjutan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari Workshop Penguatan Komitmen dan Kolaborasi untuk Ekonomi Hijau yang Inklusif bagi Kaum Muda yang dilaksanakan oleh Program Pioneer for Green Future: Green Income Prospect for Marginalized Youth (Green Pro) di Kabupaten Lampung Selatan pada 08-09 September 2026.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah dan pemerintah desa, kaum muda, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, organisasi penyandang disabilitas, komunitas, sektor swasta, hingga mitra pembangunan. Forum ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat koordinasi dan menyusun langkah yang lebih terarah dalam mendukung pengembangan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.
Menghubungkan Pembelajaran 2025 dengan Langkah 2026
Tahun 2025 menjadi tahap penting dalam membangun fondasi Program Green Pro di Lampung Selatan. Berbagai proses telah dilakukan, mulai dari koordinasi dan sosialisasi, penguatan relawan muda, kajian partisipatif, penyusunan data dasar, pemetaan potensi ekonomi hijau, hingga pengembangan jejaring dan kemitraan.
Memasuki tahun 2026, berbagai pembelajaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rencana kerja yang lebih terarah. Salah satu agenda utama workshop adalah penyepakatan dan penandatanganan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Program Green Pro Tahun 2026.
RKT menjadi salah satu acuan bersama untuk memperkuat koordinasi, pembagian peran, serta kolaborasi dalam pelaksanaan program. Upaya ini juga diarahkan agar inisiatif Green Pro dapat terhubung dengan agenda pembangunan di tingkat kabupaten dan desa, termasuk inisiatif DESA HELAU.
Memperkuat Peran dan Organisasi Kepemudaan
Dalam pengembangan ekonomi hijau, kaum muda memiliki potensi untuk menjadi penggerak inovasi, mengembangkan usaha, memanfaatkan sumber daya lokal, serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dan risiko bencana.
Untuk memperkuat peran tersebut, rangkaian kegiatan juga mencakup pembentukan organisasi kepemudaan di Lampung Selatan. Pembentukan organisasi ini menjadi salah satu langkah untuk membangun wadah bersama bagi kaum muda dalam berjejaring, berkolaborasi, serta mengembangkan berbagai inisiatif yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah.
Keberadaan wadah kepemudaan diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan koordinasi antar kaum muda sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi mereka untuk terlibat dalam pembangunan dan pengembangan ekonomi hijau di Lampung Selatan.
Upaya ini juga sejalan dengan kebutuhan untuk membangun ekosistem yang mendukung kaum muda, mulai dari peningkatan kapasitas, akses terhadap jejaring dan peluang, hingga kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan.
Lima Modul Ekonomi Hijau Direview Bersama
Selain penandatanganan RKT, workshop juga menjadi ruang untuk melakukan review terhadap lima modul ekonomi hijau yang telah dikembangkan oleh Program Green Pro.
Kelima modul tersebut mencakup:
- Pemasaran Produk Hijau
- Agro-Eduwisata Inklusif Desa
- Budidaya Lebah Gagela
- Olahan Hasil Pertanian
- Energi Baru Terbarukan dan Efisiensi Energi
Review dilakukan melalui presentasi, diskusi kelompok terarah (FGD), serta pemberian masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Proses ini dilakukan untuk memastikan materi, metode, pendekatan, dan substansi modul sesuai dengan kebutuhan kaum muda serta konteks desa.
Berbagai masukan yang diperoleh menjadi bahan untuk menyempurnakan modul agar semakin relevan, aplikatif, inklusif, dan dapat mendukung penguatan kapasitas kaum muda dalam mengembangkan ekonomi hijau.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Langkah yang Lebih Berkelanjutan
Workshop ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi hijau tidak dapat berjalan sendiri. Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem yang mendukung kaum muda.
Pemerintah, pemerintah desa, organisasi pemuda, perguruan tinggi, organisasi penyandang disabilitas, komunitas, dunia usaha, serta mitra pembangunan memiliki peran masing-masing dalam memperkuat koordinasi dan membuka ruang kolaborasi.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan pameran produk hasil pendampingan masyarakat, seperti produk olahan makanan, kerajinan dari sampah plastik, gantungan kunci, dan tas berbahan limbah. Kehadiran produk-produk tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa potensi ekonomi hijau dapat dikembangkan dari sumber daya dan kreativitas yang ada di masyarakat.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan menjadi ruang untuk memperkuat komitmen bersama, koordinasi dan kolaborasi, penyepakatan RKT Program Green Pro 2026, penyempurnaan modul ekonomi hijau, serta penguatan wadah kepemudaan di Lampung Selatan.
Dari Komitmen Menuju Aksi
Penandatanganan RKT, review modul, dan pembentukan organisasi kepemudaan menjadi bagian dari langkah untuk memperkuat kerja bersama.
Melalui Green Pro, Perkumpulan PALUMA Nusantara bersama ASB Indonesia dengan dukungan pendanaan BMZ Jerman terus mendorong penguatan kapasitas dan peran kaum muda usia 18-35 tahun di Desa Kunjir dan Desa Totoharjo dalam pengembangan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari pembelajaran, lahir perencanaan. Dari komitmen, dibangun kolaborasi. Dan dari kolaborasi, diharapkan semakin banyak ruang bagi kaum muda untuk tumbuh, berinovasi, membangun jejaring, mengembangkan usaha, serta berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di Lampung Selatan.
