Lampung Selatan, 16 Juli 2026 – Lagu Potong Bebek Angsa dan Naik Becak terdengar berbeda di SD Aisyiyah Kalianda, Kamis (16/7). Bukan untuk pelajaran seni, kedua lagu tersebut menjadi media edukasi yang digunakan Paluma Nusantara untuk mengenalkan prosedur penyelamatan diri saat bencana kepada peserta didik dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas I hingga kelas VI, guru, serta tenaga kependidikan. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, siswa dikenalkan pada berbagai ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Lampung Selatan, seperti gempa bumi, tsunami, dan cuaca ekstrem. Selain itu, mereka juga mempelajari langkah-langkah penyelamatan diri sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Untuk memudahkan anak-anak memahami materi, Paluma Nusantara mengadaptasi lagu anak sebagai media pembelajaran. Lagu Potong Bebek Angsa digunakan untuk menjelaskan proses terjadinya gempa bumi sekaligus mengingatkan siswa mengenai prinsip 3B, yaitu Berlutut, Berlindung, dan Bertahan sambil Berpegangan. Sementara itu, lagu Naik Becak diubah liriknya menjadi pengingat prinsip BBMK, yaitu Jangan Berlari, Jangan Berisik, Jangan Mendorong, dan Jangan Kembali ke bangunan yang masih berisiko. Metode tersebut membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus membantu siswa mengingat prosedur keselamatan dengan lebih mudah.
Sosialisasi ini juga menerapkan prinsip pendidikan yang inklusif. Seluruh peserta didik mengikuti kegiatan bersama tanpa terkecuali, termasuk delapan peserta didik penyandang disabilitas yang terdiri atas satu siswa tuli, tiga siswa dengan speech delay, satu siswa dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), satu siswa hiperaktif, dan dua siswa dengan Down syndrome. Melalui pendekatan yang disesuaikan, setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk memahami materi kebencanaan dan berpartisipasi aktif dalam setiap sesi.

Kepala SD Aisyiyah Kalianda, Roy Kasmarin, S.Pd., M.M., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pendidikan kebencanaan merupakan bekal penting bagi seluruh warga sekolah, terlebih sekolah juga memiliki peserta didik dengan kebutuhan khusus.
“Kami berharap SD Aisyiyah Kalianda menjadi sekolah yang aman bagi seluruh warga sekolah, termasuk peserta didik penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, kami ingin guru dan siswa memiliki pengetahuan serta kesiapsiagaan yang baik sehingga mampu bertindak cepat dan tepat ketika terjadi bencana,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Paluma Nusantara menegaskan bahwa membangun budaya sadar bencana tidak cukup dilakukan melalui satu kali kegiatan. Menurutnya, pendidikan kebencanaan harus menjadi proses pembelajaran yang dilaksanakan secara berulang agar menjadi kebiasaan yang melekat pada diri anak.
“Anak-anak belajar melalui pembiasaan. Karena itu, sosialisasi dan simulasi kebencanaan tidak cukup dilakukan satu kali, tetapi perlu dilaksanakan secara berkala. Ketika mereka terus berlatih, langkah-langkah penyelamatan diri akan menjadi respons yang muncul secara alami saat menghadapi situasi darurat. Harapan kami, budaya siaga bencana dapat tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah,” ujar perwakilan Paluma Nusantara.
Selain penyampaian materi, peserta didik juga diajak mempraktikkan prosedur keselamatan sederhana serta mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul di lingkungan sekolah. Di akhir kegiatan, tim fasilitator bersama para guru melakukan evaluasi untuk menilai efektivitas penyampaian materi dengan mengamati tingkat partisipasi, antusiasme, serta pemahaman peserta didik terhadap ancaman bencana dan langkah-langkah penyelamatan diri.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengikuti materi dengan baik serta mengingat kembali prosedur keselamatan yang telah dipelajari melalui lagu dan praktik langsung.
Melalui kegiatan ini, Paluma Nusantara berharap pendidikan kebencanaan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan MPLS, tetapi juga menjadi budaya di lingkungan sekolah. Dengan pengetahuan dan latihan yang diberikan sejak dini, sekolah diharapkan mampu menjadi lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
