4 orang perempuan dan 1 laki-laki di atas panggung yang sedang berbincang dalam sesi “Refleksi Dampak Perjalanan Inklusif”

Yogyakarta – Kamis (11/06/2026), menjadi hari yang penuh makna bagi kami. Di tengah perayaan 20 tahun Arbeiter Samariter Bund (ASB) di Indonesia, Paluma Nusantara tidak hanya hadir sebagai mitra, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah panjang penguatan ketangguhan inklusif. Acara yang mengusung tema “Dialog 20 Tahun ASB di Indonesia: Dampak, Pembelajaran, dan Arah Masa Depan Inklusif” ini digelar di Yogyakarta dan dihadiri oleh berbagai mitra ASB.

Penyerahan penghargaan dari ASB kepada Heniasih – Direktur Paluma Nusantara

Dalam rangkaian acara, Paluma Nusantara secara resmi menerima penghargaan sebagai mitra ASB terlama. Bagi Paluma Nusantara, penghargaan tersebut bukan sekadar gelar, melainkan cerminan perjalanan panjang belajar bersama ASB dalam berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.

Sesi talk show bertajuk “Refleksi Dampak Perjalanan Inklusif” menjadi salah satu bagian utama acara. Di panggung tersebut, Paluma Nusantara hadir bersama sejumlah narasumber lain. Dalam sesi itu, Umi Azizah (Project Manager Paluma Nusantara) berbagi pengalaman tentang berbagai pembelajaran yang didapat selama bermitra dengan ASB.

Beberapa poin penting yang disampaikan mencakup cara memperlakukan dan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, penerapan prinsip inklusi sosial di tingkat komunitas, serta pengarusutamaan kesetaraan gender dalam setiap program tanggap darurat dan ketahanan iklim. Paluma Nusantara menekankan bahwa pendekatan ASB yang berbasis pada martabat manusia telah mengubah cara kerja organisasi di lapangan.

Acara juga menyuguhkan sesi “Cerita Perubahan: Dari, Oleh, dan Untuk Kita” yang dibawakan oleh tiga staf ASB: Mengty Dese Benu, Ani Rosliani, dan Fauzi Al Khomsani. Mereka menuturkan pengalaman langsung saat mendampingi masyarakat di daerah rawan bencana. Paluma Nusantara mengakui bahwa cerita-cerita tersebut sangat dekat dengan keseharian tim di lokasi-lokasi dampingan, mulai dari tantangan awal menerapkan program inklusif hingga keberhasilan melihat kelompok rentan menjadi pelaku utama dalam mitigasi bencana.

Bagi Paluma Nusantara, peringatan 20 tahun ASB di Indonesia bukan sekadar seremoni. Perjalanan panjang ini telah menghasilkan banyak pembelajaran yang tidak bisa diperoleh dari pelatihan formal saja. Kolaborasi erat dengan ASB mengajarkan bahwa makna sebenarnya dari kerja kemanusiaan bukan terletak pada jumlah desa yang didampingi atau jumlah peserta yang dijangkau, melainkan pada transformasi manusia-manusia di dalamnya.

Paluma Nusantara pulang dari acara dengan semangat baru. Penghargaan sebagai mitra terlama menjadi pendorong untuk terus menularkan nilai-nilai inklusi ke lebih banyak organisasi akar rumput di berbagai wilayah Nusantara. Komitmen untuk bersama-sama membangun ketangguhan yang inklusif tetap menjadi pegangan utama ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *