Tidak pernah membayangkan kalau ia akan menjadi penyandang disabilitas. itulah yang dikatakan Fesol Anggara, seorang pemuda Desa Totoharjo. Ia mengalami kecelakaan ketika masih duduk di bangku SMA. Setelah kejadian itu, ia harus kehilangan kekuatan tangan kirinya, ia menjadi tidak bisa mengangkat benda berat yang biasanya bisa dilakukan oleh remaja seusianya. Selain itu, tengkorak kepalanya harus ditambal oleh plat logam dikarenakan tengkorak kepalnya berlubang karena kecelakaan tersebut. Sekitar enam bulan ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur karena belum dapat beraktivitas.
Kondisi tersebut membuat hari-harinya terasa kosong. Sebelum kecelakaan, Fesol juga mengaku sering mengonsumsi minuman keras dan menghabiskan waktu dengan mengadu ayam. Ketika aktivitasnya semakin terbatas, kebiasaan menghabiskan waktu tanpa kegiatan pun terus berlanjut.
“Dulu khilaf mas, sebelum kecelakaan saya minum-minum sama kawan” ucap Fesol.
Perubahan mulai terbuka ketika Fesol mulai berkenalan dengan Program Green Pro. Program Green Pro saat itu sedang mencari kaum muda yang tertarik melakukan budidaya Lebah Gagela (Lebah Trigona). Pada awalnya ia tidak langsung percaya. Ia sempat bertanya-tanya apakah kegiatan tersebut benar-benar bermanfaat baginya. Namun keinginannya untuk belajar dan memiliki kegiatan membuatnya mencoba, ia sudah jenuh karena tidak memiliki aktifitas lain selain didalam rumah.
“Ya abis ngobrol sama sampean itu, saya tanya ke orang tua, tadi diajakin mas Anggun ikut ternak klanceng, gimana boleh ikut ngga? kata orang tua ya ngga papa selama kegiatannya positif”. Ucap Fesol.
Di Desa Totoharjo dimana ia lahir dan dibesarkan, ia melihat beberapa warga sebenarnya sudah memelihara lebah Trigona. Sebagian besar adalah orang tua dan belum tergabung dalam kelompok. Bagi Fesol, kondisi itu menunjukkan bahwa kegiatan tersebut masih belum banyak dilirik anak muda.
Fesol mulai menanam bunga sebagai tahapan yang harus dijalani ketika ingin budidaya lebah Gagela. Ia menanam tanaman Air Mata Pengantin dan Santos Lemon.

Prosesnya tidak selalu mudah. Ia pernah kesulitan menyiram tanaman karena belum kuat mengangkat air. Namun karena tanaman perlu dirawat, ia tetap mencoba melakukannya.
Dari kegiatan sederhana itu, Fesol mulai memiliki aktivitas yang bisa dilakukan secara rutin. Merawat tanaman kemudian menjadi bagian dari kesehariannya.
Ketika ditanya tentang perubahan yang paling ia rasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut, Fesol tidak menyebut perubahan besar.
“Sekarang saya memiliki aktivitas yang positif.” Ucap Fesol.
Sebelumnya, waktunya lebih banyak digunakan untuk tidur dan mengadu ayam. Ia mengakui bahwa sampai sekarang kebiasaan mengadu ayam belum sepenuhnya ditinggalkan.
Namun kini ia mulai memiliki kegiatan lain. Ia juga mulai memiliki harapan untuk suatu hari nanti benar-benar berhenti dari kebiasaan tersebut.
Perubahan Fesol masih berlangsung. Kegiatan budidaya Lebah Gagela tidak serta-merta mengubah kebiasaan yang sudah lama ia jalani. Namun kesempatan untuk belajar budidaya Gagela memberinya ruang untuk kembali beraktivitas setelah cukup lama banyak menghabiskan waktu dengan tidur.
Bagi Fesol, perubahan itu sederhana: ada tanaman yang dirawat dan ada waktu yang kini bisa diisi dengan kegiatan positif.
Ia belum sampai pada titik yang ia inginkan. Tetapi keinginannya untuk berubah sudah mulai muncul, bersamaan dengan aktivitas baru yang ia jalani.
Mungkin langkahnya masih kecil. Namun bagi Fesol, setelah lama tidak banyak melakukan aktivitas, memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan setiap hari adalah perubahan yang berarti.
