KALIANDA, Lampung Selatan – 20 Oktober 2025. Lampung Selatan resmi menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Green Pro (Green Income Prospects for Marginalized Youth) — sebuah inisiatif lintas negara yang dirancang untuk mendorong lahirnya peluang ekonomi hijau bagi kaum muda.
Program ini diinisiasi oleh Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) dari Jerman, dan didanai oleh The Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ) Jerman. Program dijalankan bersama mitra lokal Perkumpulan PALUMA Nusantara, di dua wilayah fokus: Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, dan Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa. Green Pro akan berlangsung selama tiga tahun (1 September 2025 – 31 Agustus 2028) dan menjadi wadah bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.
Enam Fokus Sektor Ekonomi Hijau
Green Pro akan mendorong pemuda di pedesaan untuk mengembangkan ide dan usaha di enam sektor andalan ekonomi hijau, antara lain:
- Pertanian berkelanjutan
- Peternakan dan perikanan ramah lingkungan
- Eduwisata berbasis alam dan budaya lokal
- Pemasaran digital produk hijau
- Energi baru terbarukan
- Pengelolaan dan daur ulang sampah
Melalui sektor-sektor ini, Green Pro tidak hanya ingin membuka peluang ekonomi, tetapi juga membentuk generasi yang peka terhadap lingkungan dan mampu berinovasi dari potensi lokal. Salah satu bentuk komitmen Paluma dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan antara lain dengan menyedikan snack tanpa bungkus plastik atau kardus, penyediaan tempat sampah yang terpilah, dan tidak menyediakan minuman berkemasan botol atau gelas plastik. “Paluma berani memulai dan harapannya bisa diterapkan juga secara lebih luas di kelompok dampingan kami,” ungap Umi Azizah selaku Program Manager Green Pro. Sementara itu, Dipo Yuwono selaku Program Officer Green Pro menyoroti persoalan pengangguran di kalangan generasi muda yang masih cukup tinggi. Hal ini juga menadi dasar inisiasi Program Green Pro agar generasi muda terutama Gen Z bisa berdaya di sektor ekonomi hijau, bahkan penjadi pelopor di wilayahnya.
Kolaborasi untuk Ketahanan Bersama
Salah satu kekuatan utama Green Pro adalah pendekatan kolaboratifnya. Program ini menghubungkan berbagai pihak — mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat — untuk bersama-sama menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang inklusif. Untuk itu, dalam sosialisasi Program Green Pro di Aula Rimau Bappeda Lampung Selatan, Paluma mengundang berbagai organisasi baik dari pemerintah, OPDIS, hingga ormas keagamaan untuk menjaring aspirasi dan ide dari berbagai pemangku kepentingan.

Dalam mekanisme ini, PALUMA Nusantara berperan sebagai pendamping di tingkat akar rumput, sektor swasta membuka jejaring dan peluang bisnis hijau, sementara pemerintah daerah memastikan seluruh kegiatan sejalan dengan kebijakan pembangunan dan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Pendekatan ini diharapkan bisa menjawab tantangan yang selama ini dihadapi pemuda pedesaan, seperti keterbatasan akses terhadap pengetahuan kewirausahaan hijau, minimnya modal awal, serta kurangnya sinergi antarpemangku kepentingan.
Dampak Jangka Panjang untuk Generasi Muda
Sasaran utama Green Pro meliputi organisasi pemuda, lembaga pendidikan vokasi, pelaku sektor swasta, dan aktor pemerintah. Namun manfaatnya diharapkan meluas hingga kalangan pemuda dan komunitas lokal secara keseluruhan. Bagi PALUMA Nusantara, keterlibatan dalam Green Pro bukan hal baru. Lembaga ini sudah lama dikenal dengan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kapasitas lokal. Dengan pengalaman itu, Green Pro diharapkan bisa menjadi gerakan yang tidak berhenti di pelatihan semata, tapi juga melahirkan perubahan nyata yang berkelanjutan.
Menuju Generasi Hijau yang Berdaya
Green Pro adalah bukti bahwa transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya wacana global — tapi gerakan nyata yang dimulai dari desa. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, program ini membuka ruang bagi pemuda untuk membangun masa depan yang tidak hanya sejahtera, tapi juga ramah lingkungan. Karena pada akhirnya, masa depan bumi yang lestari ada di tangan generasi muda yang berani beraksi hari ini.
