Sejumlah ibu-ibu tampak menyimak narasumber pelatihan

Sebanyak 16 ibu-ibu dari Desa Canti dan Desa Rajabasa mengikuti pelatihan pembuatan tukus, kikat (ikat kepala adat Lampung Selatan), dan hanuang berbahan tapis. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Paluma Nusantara ini dilaksanakan pada Sabtu, 18 April, bertempat di Balai Desa Rajabasa.

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan desa, dalam mengembangkan keterampilan berbasis kearifan lokal. Selain sebagai sarana peningkatan kapasitas, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendorong lahirnya produk-produk turunan tapis yang lebih variatif dan memiliki nilai jual di pasaran.

Dalam pelaksanaannya, peserta diperkenalkan pada pembuatan tiga jenis produk, yaitu tukus, kikat, dan peci. Ketiga produk tersebut dipilih karena memiliki nilai budaya yang kuat sekaligus peluang ekonomi yang cukup terbuka. Dengan inovasi desain dan pemanfaatan bahan tapis, produk-produk ini diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya untuk kebutuhan adat, tetapi juga sebagai produk fesyen dan cinderamata.

Suasana pelatihan berlangsung aktif dan partisipatif. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, saling berdiskusi, serta mencoba langsung pembuatan produk. Keterlibatan aktif ini menunjukkan tingginya minat masyarakat dalam mengembangkan keterampilan baru yang dapat mendukung perekonomian keluarga.

Pelatih kegiatan, Rajo Mudo, menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan budaya lokal melalui inovasi. “Tukus dan kikat adalah warisan budaya yang harus dilestarikan. Melalui pelatihan ini, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengembangkannya agar memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengembangan produk turunan tapis menjadi salah satu strategi penting agar kerajinan tradisional tetap diminati oleh generasi muda dan mampu bersaing di pasar modern.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. “Pelatihan ini sangat bermanfaat, menambah pengetahuan dan keterampilan kami. Harapannya ke depan bisa menjadi peluang usaha tambahan bagi kami,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta tidak hanya mampu memproduksi secara mandiri, tetapi juga dapat mengembangkan usaha kecil berbasis kerajinan tapis. Selain itu, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kelompok usaha bersama yang berkelanjutan di tingkat desa.

Ke depan, pengembangan produk turunan tapis seperti tukus, kikat, dan hanuang diharapkan mampu memperkuat identitas budaya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, potensi kerajinan tapis dapat terus dikembangkan sebagai salah satu unggulan daerah Lampung Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *