Suasana sosialisasi di Desa Rajabasa, ibu-ibu duduk melingkar di teras halamanSuasana sosialisasi di Desa Rajabasa

Permasalahan sampah masih menjadi tantangan serius di tengah masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan membakar sampah rumah tangga masih banyak ditemukan dan kerap dianggap sebagai praktik yang lazim. Padahal, perilaku tersebut memiliki dampak jangka panjang terhadap lingkungan, kesehatan, serta memperburuk kondisi pemanasan global dan perubahan iklim yang kini mulai dirasakan secara nyata.

Menanggapi kondisi tersebut, Paluma Nusantara melaksanakan kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah kepada masyarakat di Desa Canti dan Desa Rajabasa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait dampak negatif pengelolaan sampah yang tidak tepat, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.

Sosialisasi dilaksanakan secara langsung di tingkat RT di masing-masing desa, sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Pendekatan ini dinilai efektif karena memungkinkan interaksi yang lebih intensif, serta membuka ruang diskusi yang lebih kontekstual sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing RT.

Dalam kegiatan ini, masyarakat ditekankan pada pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik dan anorganik perlu dipisahkan sebagai langkah awal pengelolaan yang benar. Hal ini juga didukung dengan keberadaan bank sampah yang sudah terbentuk di masing-masing desa, yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana pengelolaan dan pengumpulan sampah bernilai ekonomis.

Dalam pemaparannya, Nanang Priyana, menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap sampah harus dimulai dari diri sendiri dan dari rumah tangga. “Kita punya rumah kita urus. Kita punya anak kita jaga. Kita punya kendaraan kita rawat. Tapi kenapa saat kita punya sampah, kita justru tidak mau mengurusnya?” ujar Nanang di hadapan peserta sosialisasi.

Ia menambahkan bahwa pemilahan sampah dari rumah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan adanya bank sampah di desa, masyarakat sebenarnya sudah memiliki fasilitas yang dapat mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik, tinggal bagaimana memaksimalkan pemanfaatannya.

Selain itu, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai bahaya pembakaran sampah, yang dapat menghasilkan polusi udara dan berdampak pada kesehatan, serta berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, masyarakat didorong untuk mulai meninggalkan kebiasaan tersebut dan beralih ke cara pengelolaan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Suasana Sosialisasi di Desa Canti

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini terlihat cukup aktif. Warga menyampaikan berbagai kondisi dan kendala yang dihadapi di lingkungan masing-masing, termasuk keterbatasan sarana dan kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Diskusi yang terbangun menjadi bagian penting dalam mencari solusi bersama yang dapat diterapkan secara bertahap.

Paluma Nusantara menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses yang tidak singkat, sehingga pendekatan edukasi yang konsisten menjadi kunci utama dalam membangun kesadaran kolektif.

Dengan dilaksanakannya sosialisasi di setiap RT serta dukungan fasilitas seperti bank sampah, diharapkan masyarakat Desa Canti dan Desa Rajabasa dapat mulai membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah. Langkah sederhana dari rumah diharapkan mampu memberikan dampak besar dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *