Seorang ibu tampak sedang mengumpulkan botol bekas dalam satu karung

Pagi hari di Desa Rajabasa selalu dimulai dengan kesibukan yang tak pernah sepi bagi Habsa. Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, ia mengawali harinya dengan menyiapkan kebutuhan keluarga. Namun aktivitasnya tidak berhenti di situ. Di sela waktu, ia juga berjualan gorengan, menambah penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga.

Di tengah padatnya aktivitas itu, Ibu Habsa tetap menyisihkan waktu untuk satu kebiasaan yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang—memilah dan mengumpulkan sampah. Dari dapur dan warung kecilnya, plastik bekas, kertas pembungkus, hingga berbagai kemasan ia pisahkan dengan rapi.

Dari kebiasaan sederhana itulah, ia menjadi salah satu anggota bank sampah dengan hasil timbangan yang cukup banyak di Desa Rajabasa. Sedikit demi sedikit, sampah yang ia kumpulkan terus bertambah, menjadi bukti nyata dari ketekunan yang ia jalani setiap hari.

Namun bagi Ibu Habsa, nilai terbesar bukan terletak pada hasil timbangan.

“Saya ingin memberi contoh, bahwa dari rumah kita sendiri, kita bisa mulai menjaga lingkungan. Kalau kita mau memilah sampah, orang lain juga bisa ikut,” ujarnya.

Sebagai istri Sekretaris Desa, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberi teladan. Bukan dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, penjual gorengan, dan keaktifannya dalam kegiatan pengajian tidak menjadi penghalang. Justru dari aktivitas sehari-hari itulah ia menyisipkan pesan-pesan sederhana tentang pentingnya menjaga lingkungan. Cerita tentang sampah yang bisa ditabung, tentang kebersihan yang dimulai dari rumah, perlahan menyebar dan menginspirasi warga sekitar.

Anak-anaknya pun tumbuh dengan kebiasaan yang sama. Mereka belajar bahwa sampah bukan sesuatu yang harus dibuang sembarangan, tetapi bisa dikelola dan dimanfaatkan.

“Kalau kita ingin lingkungan bersih, kita harus mulai duluan. Tidak perlu menunggu orang lain,” tambahnya.

Apa yang dilakukan Ibu Habsa mungkin terlihat sederhana, mengumpulkan sampah di tengah kesibukan sehari-hari. Namun dari konsistensi itulah lahir perubahan. Dari gorengan yang ia jual, dari rumah yang ia kelola, hingga dari sampah yang ia pilah, semuanya menjadi bagian dari cerita tentang kepedulian.

Dari sudut Desa Rajabasa, Ibu Habsa menunjukkan bahwa peran besar tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, justru dari tangan seorang ibu, dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari, lahir inspirasi yang mampu menggerakkan banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *