Salah satu ibu peserta pelatihan sedang maju dihadapan kelas

Lampung Selatan, dalam upaya meningkatkan kapasitas komunikasi masyarakat, ADPC menyelenggarakan kegiatan pelatihan public speaking yang berlangsung pada tanggal 14–15 April 2026 di Desa Canti dan Desa Rajabasa. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan keterampilan berbicara di depan umum kepada kelompok masyarakat dan pemerintah desa.

Pelatihan ini melibatkan kelompok masyarakat binaan Paluma Nusantara dan pemerintah desa. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi dasar teknik berbicara di depan umum, tetapi juga pemahaman tentang pentingnya komunikasi yang efektif, terstruktur, dan mampu menarik perhatian audiens.

Dalam sesi diskusi, Supriyanto dari ADPC mengajak peserta mengidentifikasi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi saat berbicara di depan umum. Sejumlah kendala yang mengemuka di antaranya rasa gugup dan kurang percaya diri, kesulitan merangkai kata-kata, takut salah atau ditertawakan, hingga kebiasaan lupa materi saat berada di depan audiens. Selain itu, beberapa peserta juga mengungkapkan kendala seperti suara yang kurang jelas, kurangnya penguasaan materi, serta minimnya pengalaman tampil.

Diskusi ini menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memahami bahwa hambatan tersebut merupakan hal yang umum dialami.

“Rasa gugup, takut salah, atau lupa materi itu hal yang wajar. Semua orang pernah mengalaminya. Yang terpenting adalah bagaimana kita mau mulai mencoba dan terus berlatih,” ujar Supriyanto.

Tidak berhenti pada penyampaian materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk tampil dan mencoba langsung menyampaikan paparan di hadapan peserta lainnya. Kegiatan ini juga memberikan perhatian khusus pada keterlibatan perempuan dan penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang inklusif dan setara.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya belajar menyampaikan informasi, tetapi juga melatih keberanian, mengelola rasa gugup, serta membangun kepercayaan diri. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, dengan dukungan dan apresiasi dari sesama peserta.

Salah satu peserta dari kelompok binaan Paluma Nusantara mengaku pelatihan ini sangat membantu dalam mengatasi rasa tidak percaya diri. “Biasanya kami merasa gugup dan sering lupa apa yang mau disampaikan. Setelah latihan, kami jadi lebih berani dan mulai paham cara menyusun penyampaian dengan lebih jelas,” ujarnya.

Sebagai penutup, Supriyanto kembali menegaskan pentingnya praktik berkelanjutan. “Public speaking itu bukan bakat, tapi keterampilan. Kalau tidak dilatih, tidak akan berkembang. Mulailah dari hal kecil, dari kelompok sendiri, nanti lama-lama akan terbiasa,” tegasnya. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan kapasitas masyarakat di kedua desa semakin meningkat, khususnya dalam hal komunikasi publik, sehingga mampu mendukung pengembangan desa serta memperkuat peran kelompok masyarakat dalam menyampaikan informasi kepada pihak luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *