RAJABASA – Destana dan Masyarakat Desa Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Gladi Sistem Peringatan Dini Berbasis Komunitas serta Evakuasi Bencana Tsunami Selat Sunda yang dilaksanakan hari ini, Senin (13/4/2026).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesiapsiagaan warga terhadap potensi bahaya tsunami. Acara dimulai dengan sesi sosialisasi mengenai evakuasi dan cara merespons peringatan dini secara mandiri. Usai pembekalan teori, warga langsung mempraktikkan alur evakuasi melalui gladi yang menekankan pada manajemen pengorganisasian komunitas.
Skenario Koordinasi dan Pembagian Peran
Dalam gladi ini, alur komunikasi diuji melalui skenario darurat. Suasana damai di dermaga dan pemukiman seketika berubah saat laporan masuk melalui frekuensi radio (HT) dari Pulau Sebesi yang menginformasikan adanya ancaman tsunami. Ketua Destana, Bang Fai, segera berkoordinasi dengan Kepala Desa selaku Komandan Posko untuk mengaktivasi tanda bahaya.
Monitoring melalui HT menjadi kunci, di mana Ketua Destana memantau sepuluh elemen strategis, termasuk Tim Peringatan Dini yang menyalakan sirine dan pengeras suara masjid, serta Tim Evakuasi yang menyisir warga di bibir pantai. Fokus utama diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia, disabilitas, dan ibu hamil untuk memastikan seluruh warga mencapai titik kumpul aman.
Antusiasme dan Penanganan Dinamika Lapangan
Masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengikuti jalur evakuasi secara tertib. Dalam simulasi tersebut, tim juga berlatih menangani dinamika lapangan, seperti warga yang mengalami histeris hingga pengamanan oknum perusuh oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas di tengah situasi mencekam.
“Kita membangun sistem peringatan dini berbasis komunitas. Artinya, warga adalah garda terdepan. Pembagian peran ini memastikan setiap orang tahu apa yang harus dilakukan saat bencana sesungguhnya terjadi,” ujar perwakilan penyelenggara.
Laporan Kerugian dan Penutup
Kegiatan diakhiri dengan pelaporan data kerusakan oleh tim pendataan kepada Kepala Desa. Dalam pidatonya, Kepala Desa menekankan pentingnya sinergi antar-relawan dan komunikasi lintas wilayah demi meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa.
Gladi ini merupakan rangkaian persiapan menuju gladi bersih dan simulasi penuh. Dengan adanya kegiatan rutin ini, diharapkan indeks risiko bencana di wilayah pesisir Lampung Selatan dapat terus ditekan melalui penguatan kapasitas masyarakat yang tangguh.
