Dalam rangka Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2025 di Mojokerto, Jawa Timur, Paluma Nusantara berpartisipasi aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Salah satu agenda penting yang diikuti adalah Sharing Session bertema “Memperkenalkan Piagam Iklim dan Lingkungan bagi Organisasi Kemanusiaan”, diselenggarakan oleh ASB South & South East Asia. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas organisasi non-pemerintah dalam merancang program kemanusiaan yang ramah lingkungan dan tangguh terhadap dampak perubahan iklim.
Bertempat di Pendopo Kantor Camat Kranggan, Mojokerto, diskusi membahas pentingnya komitmen lembaga kemanusiaan untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui penandatanganan Piagam Iklim dan pelaksanaan aksi nyata mulai dari lingkungan kerja hingga masyarakat.
Selain itu, sesi diskusi juga menyoroti peran penyandang disabilitas dalam menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan kegiatan pemilahan sampah dan pengelolaan limbah ramah lingkungan.
“Di kegiatan ini kami mendapat pemahaman tentang Piagam Iklim, kemudian menandatangani piagam sebagai bentuk komitmen awal Paluma. Ini menjadi langkah nyata untuk menghadapi krisis iklim, mulai dari mengurangi emisi gas rumah kaca hingga beradaptasi dengan perubahan iklim. Kami berupaya menerapkan komitmen tersebut, baik di lingkungan kantor maupun lokasi program,”
— Windah Sri Utami, Head of Finance Paluma Nusantara.
Belajar dari Sejarah Bencana Bersama Skala Indonesia
Pada sesi lainnya, perwakilan Paluma Nusantara juga mengikuti Sharing Session bersama Skala Indonesia bertajuk “Ekspedisi Jawa Dwipa: Membaca Kisah Bumi – Perjalanan Mencari Bukti Gempa Kuno di Jawa Timur.”
Tim peneliti Skala Indonesia memaparkan hasil riset tentang jejak gempa dan tsunami di wilayah Selatan Jawa Timur. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan lokal dan sejarah bencana masa lalu dapat menjadi dasar penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana di masa depan. Salah satu contoh temuan tim Skala dalam ekspedisi ini adalah peninggalan batu yang berbentuk seperti gong, disebut dengan batu umpak. Umpak dapat berfungsi sebagai penyangga bangunan yang berada di atas tanah maupun penyangga tiang bangunan yang berpijak pada tanah. Umpak berfungsi sebagai penahan beban vertikal dan horizontal dari konstruksi di atasnya. Karena umpak terhubung dengan tanah dan bangunan dengan konstruksi sendi, bukan jepit, maka bangunan di atas batu umpak ini dapat “bergoyang” mengikuti arah beban. Penggunaan umpak batu pada bangunan zaman dahulu merupakan sebuah pengetahuan lokal untuk mitigasi bencana. Umpak merupakan contoh teknologi bangunan tahan gempa yang sudah digunakan oleh nenek moyang kita.
Pentingnya Literasi dan Dokumentasi Bencana
Dalam forum yang sama, hadir pula Pangarso Suryotomo, Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia menekankan pentingnya literasi kebencanaan dan pendokumentasian penanggulangan bencana dari masa ke masa.
Menurutnya, memahami catatan sejarah bencana alam serta mengarsipkan pembelajaran dari berbagai pengalaman lapangan akan membantu membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih baik di masa depan.
