Jumat, 14 November 2025, PALUMA Nusantara Lampung Selatan menyelenggarakan pembekalan surveyor untuk pendataan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) di dua desa sasaran, yakni Desa Canti dan Desa Rajabasa. Kegiatan yang berlangsung di kantor PALUMA Nusantara ini diikuti 11 peserta—5 perempuan dan 6 laki-laki—yang akan terjun langsung melakukan pendataan di lapangan.
Kegiatan pembekalan ini bertujuan memastikan para surveyor memiliki pemahaman yang tepat tentang konsep PEKKA, karakteristiknya, serta berbagai bentuk kerentanan yang kerap dialami. Selain itu, peserta juga dibekali penjelasan mengenai instrumen pendataan, alur kerja survei, dan etika pengumpulan data. Dengan bekal tersebut, data yang dikumpulkan diharapkan lebih akurat sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan program di tingkat desa maupun kabupaten.
Siapa yang Disebut Perempuan Kepala Keluarga?
Materi pembekalan disampaikan oleh Nanang Priyana, Project Manager PALUMA Nusantara Lampung Selatan. Ia menjelaskan bahwa perempuan kepala keluarga adalah perempuan yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga sekaligus pengambil keputusan di rumah tangga. Kondisi ini dapat muncul karena berbagai faktor, seperti:
- suami meninggal,
- perceraian,
- suami merantau tanpa memberikan nafkah,
- suami sakit menahun atau mengalami disabilitas,
- suami menjalani hukuman penjara,
- perempuan lajang yang menanggung kebutuhan keluarga,
- atau perempuan yang bekerja sebagai tulang punggung keluarga meski masih bersuami.
Dalam pembekalan, surveyor diperkenalkan pada beberapa kategori PEKKA—mulai dari janda, cerai, ditinggal tanpa dinafkahi, suami tidak berfungsi, hingga perempuan lajang yang menanggung keluarga. Peserta juga mempelajari beberapa studi kasus untuk memastikan mereka mampu mengidentifikasi apakah seseorang termasuk PEKKA atau bukan.
Bentuk Kerentanan yang Dihadapi PEKKA
Nanang turut menjelaskan bahwa perempuan kepala keluarga termasuk kelompok rentan yang berpotensi mengalami risiko lebih tinggi, terutama dalam situasi krisis dan bencana. Beberapa bentuk kerentanan yang sering dihadapi PEKKA meliputi:
- beban peran ganda dalam ranah domestik dan publik,
- akses kerja yang terbatas,
- pendapatan yang tidak stabil,
- tingkat pendidikan yang rendah,
- minim akses informasi dan layanan sosial,
- persoalan legalitas seperti pernikahan tidak tercatat atau tidak memiliki aset atas nama sendiri,
- lemahnya perlindungan sosial,
- stigma dan diskriminasi,
- serta minimnya dukungan keluarga.
Dalam situasi bencana, PEKKA juga lebih rentan karena harus mengurus anak, sering tidak memiliki dokumen penting, dan berisiko kehilangan mata pencaharian secara tiba-tiba.
Mengapa Pendataan PEKKA Sangat Penting?
Pendataan perempuan kepala keluarga menjadi langkah strategis untuk memahami kondisi sosial ekonomi di Desa Canti dan Desa Rajabasa. Data ini akan memberikan dasar yang kuat bagi pemerintah desa, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping untuk:
- menentukan sasaran program bantuan dan pemberdayaan,
- mengukur tingkat kerentanan wilayah,
- mendukung perencanaan program yang lebih inklusif dan responsif gender,
- memperkuat advokasi pengarusutamaan gender,
- serta memberikan masukan berbasis data kepada Dinas P3A dan pihak terkait lainnya.
Melalui pendataan yang akurat dan etis, PALUMA Nusantara berharap program pemberdayaan dapat lebih tepat sasaran dan mampu meningkatkan kualitas hidup perempuan kepala keluarga—sebagai salah satu kelompok yang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan ketangguhan komunitas.
