Perwakilan dari Asian Disaster Preparedness Center (ADPC) dan Margaret A. Cargill Philanthropies melakukan kunjungan lapangan ke desa dampingan Paluma Nusantara di Desa Canti dan Desa Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, pada 17–18 Februari 2026. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda monitoring dan evaluasi untuk melihat secara langsung dampak program penguatan kesiapsiagaan bencana dan pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan di wilayah tersebut.
ADPC merupakan organisasi regional berbasis di Bangkok yang berfokus pada penguatan kapasitas dan ketangguhan negara-negara Asia dalam menghadapi risiko bencana. Sementara itu, Margaret A. Cargill Philanthropies (MAGP) adalah lembaga filantropi internasional yang didirikan berdasarkan warisan Margaret A. Cargill, dermawan Amerika Serikat, yang mendukung program kemanusiaan, perlindungan lingkungan, dan penguatan komunitas rentan di berbagai belahan dunia. Dukungan kedua lembaga ini memungkinkan pendekatan berbasis komunitas di Lampung Selatan berkembang secara sistematis dan berkelanjutan.
Hari Pertama: Dari Sekolah hingga Sistem Peringatan Dini
Kunjungan hari pertama dimulai di MIN 5 Lampung Selatan, Desa Canti. Di lingkungan sekolah tersebut, rombongan disambut oleh pemerintah desa dan pihak sekolah. Paparan singkat mengenai implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menunjukkan bagaimana kesiapsiagaan diperkenalkan sejak dini kepada siswa dan tenaga pendidik. Suasana dialog berlangsung terbuka. Perwakilan donor tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan masyarakat.
Dari sekolah, rombongan bergerak menuju Sekretariat Operator Sistem Peringatan Dini (EWCS), operator desa menjelaskan secara rinci alur pemantauan ancaman, mekanisme penyebaran informasi, hingga koordinasi evakuasi warga. Operator menjelaskan bahwa sistem dibangun melalui kombinasi perangkat komunikasi, jejaring relawan, serta grup komunikasi warga yang memungkinkan pesan diteruskan secara berantai dalam waktu singkat.
Mendengar pemaparan tersebut, Jass, perwakilan Margaret A. Cargill Philanthropies tampak antusias.
“Kami sangat terkesan melihat bagaimana sistem ini bekerja di tingkat komunitas. Ini menunjukkan kesiapan yang dibangun dari pengalaman dan pembelajaran bersama,” ujarnya. Antusiasme itu mencerminkan bahwa sistem yang dibangun bukan sekadar prosedur, melainkan mekanisme yang benar-benar dipahami dan dijalankan oleh warga.
Ketangguhan yang Menyentuh Aspek Sosial dan Ekonomi
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Kelompok OPDIS (Organisasi Penyandang Disabilitas) yang mengembangkan budidaya madu serta kerajinan sulam tapis. Dialog berlangsung terbuka mengenai proses pendampingan usaha dan dampaknya terhadap kemandirian ekonomi warga
Rombongan kemudian berlanjut ke Desa Rajabasa. Di kantor desa, rombongan berdiskusi dengan pemerintah desa dan kelompok Desa Tangguh Bencana (Destana). Masyarakat berbagi pengalaman tentang peningkatan kapasitas relawan, koordinasi antarwarga, hingga perubahan pola pikir dalam menghadapi risiko.
“Kami datang untuk melihat kerja penting yang sedang dilakukan di komunitas ini. Kami sangat terkesan bagaimana masyarakat mengambil pelajaran dari tsunami 2018 dan termotivasi untuk menjadi lebih siap, mampu mengantisipasi, mengevakuasi, merespons, dan menjaga keselamatan bersama. Kami senang dapat mendukung program ini,” ungkap Alissa, perwakilan MACP.
Agenda hari pertama ditutup dengan peninjauan gudang Bank Sampah berbasis komunitas dan kelompok perempuan produsen olahan frozen food. Kedua kelompok tersebut memperlihatkan bahwa pengurangan risiko bencana berjalan seiring dengan penguatan ekonomi keluarga dan kepedulian lingkungan.
Hari Kedua: Refleksi Strategis dan Penguatan Jejaring
Kunjungan dua hari tersebut diakhiri dengan sesi diskusi di Kantor Paluma Nusantara, Lampung Selatan. Pertemuan ini dihadiri oleh tim ADPC, Margaret A. Cargill Philanthropies, Paluma Nusantara, serta mitra dampingan ADPC di Lampung Selatan, Mitra Bentala.
Diskusi berlangsung santai dan hangat, membahas capaian program, tantangan implementasi, serta peluang penguatan ke depan. Pertukaran pengalaman antara Paluma Nusantara dan Mitra Bentala memperkaya perspektif tentang pendekatan berbasis komunitas yang adaptif terhadap konteks lokal.
Kunjungan ini tidak sekadar menjadi agenda formal, melainkan penegasan bahwa ketangguhan masyarakat dibangun melalui proses Panjang, belajar dari pengalaman, memperkuat sistem, dan menjaga solidaritas sosial.
Dari Canti hingga Rajabasa, terlihat bahwa kesiapsiagaan telah tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Sistem peringatan dini berjalan, sekolah semakin sadar risiko, kelompok ekonomi semakin mandiri, dan jejaring komunitas semakin solid.
