Empat pria berdiri di dalam sebuah ruangan pertemuan dengan latar dinding berwarna krem dan deretan foto pejabat serta lambang Garuda di bagian atas. Dua pria di tengah sedang menyerahkan dan menerima satu unit handy talky beserta kotaknya sebagai simbol serah terima. Di depan mereka terdapat meja panjang dengan taplak merah muda, sementara di sisi kanan terlihat kursi plastik dan perangkat pengeras suara.

Pulau Sebesi, Lampung Selatan – Perkumpulan Paluma Nusantara kembali melaksanakan kegiatan penguatan sistem peringatan dini (Early Warning Communication System/EWCS) tsunami di Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan (15/02/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas komunikasi darurat masyarakat di wilayah yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Kegiatan ini dihadiri oleh Project Manager Paluma Nusantara Nanang Priyana, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Lampung Wahyu Hidayat, anggota Destana Tejang Pulau Sebesi, pemerintah desa, serta warga masyarakat setempat.

Dalam kegiatan tersebut, Paluma Nusantara menyerahkan bantuan perangkat komunikasi EWCS berupa rig komunikasi, power supply, aki, HT (handy talky), antena, serta perlengkapan pendukung lainnya. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Ketua Destana Tejang Pulau Sebesi, Helmi.

Pemberian bantuan ini dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Pulau Sebesi yang berada di garis terdepan dan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap potensi tsunami akibat aktivitas vulkanik. Dengan adanya perangkat komunikasi yang memadai, Pulau Sebesi diharapkan mampu menyampaikan informasi peringatan dini secara cepat kepada masyarakat di pesisir Rajabasa, BPBD, serta pihak terkait lainnya sehingga proses evakuasi dapat dilakukan lebih awal.

Dalam sambutannya, Nanang Priyana menegaskan pentingnya perawatan dan penggunaan rutin perangkat komunikasi tersebut agar selalu dalam kondisi siap pakai. Ia menyampaikan bahwa alat komunikasi harus dijaga dan dirawat dengan baik serta digunakan secara berkala untuk memastikan fungsinya tetap optimal. Menurutnya, HT ibarat senjata bagi tentara yang harus selalu dipastikan berfungsi meskipun tidak sedang dalam kondisi darurat.

Pada kesempatan yang sama, Wahyu Hidayat memberikan pemahaman tentang sistem peringatan dini yang efektif. Ia memaparkan empat unsur utama dalam sistem peringatan dini, yaitu pengetahuan risiko, pemantauan dan deteksi ancaman, penyebarluasan informasi peringatan, serta kapasitas respons masyarakat. Keempat unsur tersebut harus berjalan secara seimbang agar sistem peringatan dini dapat berfungsi secara optimal.

Melalui kegiatan ini, Paluma Nusantara menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas. Sinergi antara organisasi, pemerintah, relawan Destana, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan serta meminimalkan risiko dan dampak bencana di wilayah pesisir Lampung Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *