Seorang narasumber berdiri di depan kelas memberikan pemaparan kepada peserta yang duduk di bangku-bangku kayu seperti ruang kelas sekolah. Para peserta, sebagian mengenakan batik dan peci, terlihat menyimak dengan serius. Ruangan memiliki jendela besar dengan tirai pink, dinding dihiasi poster edukasi dan gambar, menciptakan suasana diskusi atau pelatihan komunitas yang formal namun sederhana.

Bencana kerap menjadi perbincangan setelah peristiwa terjadi. Penyebab disoroti, dampak disesalkan, dan penanganan dilakukan ketika kerugian sudah tak terelakkan. Padahal, berbagai risiko dapat dikenali jauh sebelum bencana datang. Ketika pencegahan diabaikan, penanganan pun sering terasa seperti datang terlambat.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Perkumpulan Paluma Nusantara menggelar workshop sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Yayasan Alkhairiyah Lampung Selatan, yang berlokasi di Desa Tengkujuh, Kecamatan Kalianda pada Minggu, 1 Februari lalu. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 40 perwakilan kepala sekolah dan madrasah Alkhairiyah se-Lampung Selatan, yang terdiri dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA, sebagai upaya memperkuat peran satuan pendidikan di wilayah rawan bencana seperti Lampung Selatan.

Dalam pemaparannya, Nanang Priyana menegaskan bahwa investasi dalam pencegahan dan pengurangan risiko bencana jauh lebih murah dibandingkan biaya penanganan ketika bencana telah terjadi. Kerusakan infrastruktur, terganggunya proses belajar mengajar, hingga dampak sosial dan psikologis merupakan beban besar yang sering kali baru disadari setelah kejadian. Sebaliknya, edukasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan membutuhkan biaya relatif kecil namun memberi perlindungan jangka panjang.

Ia juga mengingatkan bahwa korban bencana tidak selalu disebabkan oleh peristiwa alamnya, melainkan kerap terjadi akibat bangunan yang tidak aman, termasuk gedung sekolah dan madrasah. Gempa bumi tidak selalu mematikan, tetapi bangunan yang rapuh dan tata ruang yang abai terhadap keselamatan dapat berubah menjadi ancaman serius bagi peserta didik dan tenaga pendidik.


Lebih lanjut, pemahaman kebencanaan dinilai dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Materi kebencanaan bisa disisipkan dalam mata pelajaran, dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler, serta dipraktikkan melalui simulasi rutin. Dengan cara ini, kesiapsiagaan tidak menjadi beban tambahan, melainkan tumbuh sebagai budaya di lingkungan sekolah dan madrasah.

Selain itu, kesiapsiagaan perlu dibangun secara konsisten melalui pemetaan risiko, penyusunan rencana kedaruratan, penetapan jalur dan titik evakuasi, serta pembagian peran yang jelas bagi seluruh warga sekolah dan madrasah. Latihan yang dilakukan secara berkala diharapkan mampu mengurangi kepanikan dan meminimalkan risiko korban saat bencana benar-benar terjadi.

Ke depan, kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) diharapkan dapat menjadi bagian dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah dan madrasah Alkhairiyah. Dengan mengenalkan pemahaman kebencanaan sejak hari pertama peserta didik memasuki lingkungan pendidikan, kesadaran akan keselamatan dapat tertanam sejak awal dan menjadi fondasi penting dalam membangun budaya sekolah yang aman dan tangguh bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *