Foto close up aktivitas tangan dua orang sedang melakukan sortir sampah plastik

Rajabasa — Sampah bukan sekadar persoalan kotor atau bau. Ia adalah cermin perilaku, kepedulian, dan tanggung jawab kita sebagai masyarakat. Di Desa Rajabasa, persoalan ini kembali mengemuka seiring upaya menghidupkan kembali peran Bank Sampah yang telah berjalan sejak tahun 2024, namun belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Sejak pertama kali dibentuk, Bank Sampah di Desa Rajabasa sejatinya diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Namun dalam praktiknya, jumlah nasabah cenderung stagnan. Minimnya sosialisasi dan belum meratanya pemahaman masyarakat menjadi salah satu penyebab utama. Sampah masih dipandang sebagai urusan akhir “diangkut, dibuang, dan dilupakan” bukan tanggung jawab yang harus diselesaikan sejak dari rumah.

Berangkat dari kondisi tersebut, Perkumpulan Paluma Nusantara mulai melakukan langkah nyata dengan menggelar sosialisasi pengelolaan sampah kepada masyarakat Rajabasa. Selama dua hari terakhir sejak 29 Januari 2026 kemarin, Paluma turun langsung ke tengah warga, menyapa, berdialog, dan membuka ruang diskusi tentang persoalan sampah yang selama ini dianggap sepele, namun sesungguhnya berpotensi menjadi masalah besar.

Dalam sosialisasi ini, Paluma menekankan satu prinsip dasar: sampah tidak akan pernah selesai jika tidak ditangani dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Masyarakat diajak memahami pentingnya memilah sampah sejak dari rumah antara sampah organik, anorganik, dan residu sebagai langkah awal yang sederhana namun berdampak besar.

Mengusung slogan “Sampahku Tanggung Jawabku”, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada teknis pemilahan sampah, tetapi juga pada perubahan cara pandang. Bahwa setiap bungkus plastik, sisa makanan, dan botol minuman yang kita hasilkan adalah tanggung jawab pribadi, bukan semata tugas petugas kebersihan atau pemerintah.

“Slogan Sampahku Tanggung Jawabku harus terus digaungkan. Ini bukan sekadar kata-kata, tetapi ajakan untuk mengubah kebiasaan,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam setiap pertemuan warga. Harapannya, kesadaran ini tumbuh perlahan namun mengakar kuat, dari rumah ke rumah, dari RT ke RT.

Sosialisasi ini ditargetkan menjangkau seluruh RT di Rajabasa, agar pesan yang disampaikan tidak berhenti pada segelintir warga saja. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, Bank Sampah diharapkan kembali hidup, tidak hanya sebagai tempat menabung sampah, tetapi sebagai simbol perubahan perilaku kolektif.

Rajabasa memiliki peluang besar untuk menjadi contoh wilayah yang mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Namun kunci keberhasilannya tetap sama, kesadaran bersama . Karena sejatinya, sampah bukan masalah orang lain. Sampah adalah tanggung jawab kita semua. Sampahku, tanggung jawabku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *