Suasana Workshop Sistem Komunikasi Peringatan Dini Tsunami Selat Sunda di aula Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau. Seorang narasumber dari BPBD Lampung Selatan berdiri menyampaikan materi di depan peserta, sementara tiga pemateri lainnya duduk di meja panel. Di layar proyektor terlihat presentasi tentang sistem peringatan dini berbasis komunitas untuk menghadapi ancaman tsunami non-tektonik Gunung Anak Krakatau. Peserta workshop terdiri dari perwakilan Destana dan warga pesisir yang duduk menyimak materi. Di belakang panel terpampang spanduk kegiatan SPRINT PALUMA Nusantara

Lampung Selatan — Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman tsunami di Selat Sunda dilakukan melalui Workshop Sistem Komunikasi Peringatan Dini Bencana Tsunami Selat Sunda, yang digelar pada Selasa, 27 Januari 2025, bertempat di Aula Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Desa Tangguh Bencana (Destana) dari delapan desa pesisir Kecamatan Rajabasa serta satu desa dari Pulau Sebesi. Workshop bertujuan membangun komitmen bersama dalam penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas, khususnya pada aspek komunikasi informasi kebencanaan yang cepat, jelas, dan terkoordinasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Maturidi, S.H. dan BPBD Provinsi Lampung, yang diwakili oleh Wahyu Hidayat, Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, sekaligus menjadi pemateri utama. Dalam paparannya, Wahyu menekankan bahwa Sistem Peringatan Dini Berbasis Komunitas menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam mendeteksi, menyampaikan, dan merespons potensi bencana, terutama ancaman tsunami non-tektonik dari Gunung Anak Krakatau.

Materi workshop mengulas empat komponen utama sistem peringatan dini, yaitu pengetahuan risiko, pemantauan dan layanan peringatan, penyebarluasan informasi, serta kemampuan merespons. Keempatnya menjadi landasan dalam membangun sistem peringatan dini tsunami di wilayah pesisir Lampung Selatan dan Pulau Sebesi.

Workshop ini juga menyepakati alur komunikasi peringatan dini, di mana Pulau Sebesi diposisikan sebagai wilayah terdekat dengan sumber ancaman. Informasi awal disampaikan dari Pulau Sebesi ke Pos Tejang, kemudian diteruskan ke desa-desa pesisir Lampung Selatan melalui media komunikasi resmi Destana. Penyebarluasan kepada masyarakat dilakukan melalui pengeras suara masjid, radio komunikasi, grup WhatsApp resmi, dan relawan Destana dengan pesan yang singkat, jelas, dan berulang.

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh perwakilan Destana yang hadir, disaksikan oleh BPBD Lampung Selatan dan BPBD Provinsi Lampung. Komitmen ini menjadi dasar penguatan koordinasi dan komunikasi peringatan dini tsunami berbasis komunitas di kawasan Selat Sunda, dengan tujuan utama melindungi keselamatan masyarakat pesisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *