Pengambilan Gerantung

Lombok Utara dikenal mempunyai kampung adat yang masih melestarikan upacara adat. Upacara adat diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Salah satunya Kampung Adat Barung Biraq Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan.

Masjid Kuno

Pelestarian Masjid Kuno tidak lepas dari ritual adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Kampung Adat Barung Biraq yang berada di Desa Sambik Elen Kecamatan bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat. Serangkaian upacara adat yang berpusat di Masjid Kuno Barung Biraq masih dilestarikan oleh masyarakat di Dusun Barung Biraq.

Masjid Kuno Barung Biraq

Selain Masjid Kuno ada beberapa bangunan budaya yakni Bale Adat yang terdiri dari Lauk Lurung (utara jalan) dan Dayan Lurung (selatan jalan) serta Hutan Lawangan. Bangunan dan situs adat tersebut merupakan tempat dilaksanakannya serangkaian upacara adat. Upacara adat dilakukan menggunakan Kalender Jawa.

Rangkaian upacara adat diawali pada bulan pertama Kalender Jawa yaitu Bulan Muharam dengan ritual Bubur Petak (Putih). Warga memasak di Bale Adat untuk kemudian dibawa ke Berugak yang berada di depan Masjid Kuno dalam 2 dulang. Di Berugak Bubur Putih didoakan kemudian dimakan bersama. Upacara dipimpin oleh tokok adat seperti Pembekel, Penghulu, Amak Lokak dan Santri. Bubur sejenis dilakukan pada bulan Safar namun yang dibuat adalah Bubur Abang (merah).

Maulid Adat

Puncak kemeriahan upacara adat di Kampung Adat Barung Biraq adalah acara Maulid Adat. Pelaksanaan upacara Maulid Adat melibatkan warga Dusun Barung Biraq atau warga di luar Dusun Barung Biraq yang leluhurnya berasal dari Dusun Barung Biraq. Mereka memberi sumbangan sukarela, ada juga warga yang membayar denda (saur dosa) akibat pelanggaran ketentuan adat atau warga yang mempunyai nadzar (saur ucap). Rangakaian upacara Maulid Adat dimulai dengan acara Menutu (menumbuk padi). Padi yang digunakan adalah padi bulu yang merupakan varitas padi lokal. Padi Bulu yang ditanam tidak boleh dipanen dengan menggunakan sabit seperti panen pada umumnya. Padi dipanen menggunakan Rengkapan (ketam atau ani-ani). Pada acara menutu itu padi ditumbuk menggunakan rantok (Lesung) yang terbuat dari kayu dan tempan (penumbuk) terbuat dari bambu.

Maulid Adat Bayan

Hari berukutnya dilakukan upacara adat Ngalu Gerantung (mengambil gong). rantung merupakan alat musik utama dari gamelan. Upacara Ngalu Gerantung dipimpin oleh Amaq Gerantung dan Inaq Gerantung yaitu tokoh yang dipercaya sebagai pengambil gamelan. Gamelan yang digunakan upacara Maulid Adat disimpan di Bale Beleq Loloan. Setelah Rombongan tiba di Bale Beleq Loloan, baru gamelan di keluarkan dan ditabuh terlebih dahulu oleh warga Loloan Setelah itu baru diserahkan kepada rombongan dari Dusun Barung Biraq. Gamelan ditabuh selama perjalanan dan selama malam harinya dilakukan acara Peresean. Peresean adalah upacara pertarungan antara dua orang pria menggunakan senjata terbuat dari rotan dan perisai dari kulit sapi. Selama pelaksanaan Paresehan diiringi oleh gamelan yang ditabuh.

Semua pengunjung boleh ikut dalam Peresean yang penting berani bertarung. Upacara puncak Maulid diawali dengan Bisoq Meniq (mencuci beras). Beras hasil menutu yang dilakukan sebelumnya dicuci di Lokok Greneng yang berada di tepi Dusun Barung Biraq. Beras diarak dengan iringan gamelan sampai di batas kampung dan beras dicuci di sumur yang berada di Lokok Greneng. Selanjutnya beras dimasak di dua Bale Adat yakni Lauk Lurung dan Dayan Lurung. Makanan yang dimasak kemudian disajikan di atas Ancak. Ancak adalah semacam baki terbuat dari bambu. Makanan yang telah disajikan di Ancak dibawa menuju Masjid Kuno dari Bale Adat. Masing-masing rombongan dipimpin oleh 2 orang Praja. Semua Semua peserta upacara adat menggunakan pakaian adat yakni mengenakan sarung tanpa pakaian atas dan tidak boleh mengenakan pakaian celana dalam. Upacara di dalam Masjid Kuno dipimpin oleh Kyai Pembekel didampingi tokoh adat seperti penghulu, Amaq Lokak dan diikuti warga Dusun Barung Biraq. Puncak acara adalah pembacaan do’a dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang sudah disajikan dalam Ancak.

Selesai puncak acara Maulid adat, Gamelan ditabuh kembali, sebelum dikembalikan ke Bale Beleq Loloan. Gamelan dibawa oleh Amaq Gerantung dan Inaq Gerangtung bersama rombongan. Di Loloan, gamelan diterima untuk disimpan Kembali dalam Bale Beleq untuk digunakan pada Maulid Adat tahun berikutnya.

Sung

Setelah upacara Maulid adat warga Kampung Adat akan melewati masa (kosong) yakni bulan dimana tidak ada upacara adat. Sung berlangsung selama 3 bulan yakni bulan Rabiul Akhir, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir. Upacara adat dilakukan lagi pada hari Jumat Terakhir di Bulan Jumadil Akhir yakni acara Lohor. Upacara adat Lohor dilakukan juga dilakukan pada hari Jumat kedua dan ketiga pada Rajab.

Maleman

Pada Bulan Ramadan di Masjid Kuno dilaksanakan upacara adat Maleman yakni upacara adat pada malam ganjil pada 10 terakhir Bulan Ramadan. Upacara dilaksanakan pada malam tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29. Kegiatan utama adalah tarawih yang dilakukan oleh kiai adat bersama tokoh masyarakat yang ditentukan. Setiap malam ditentukan peserta Maleman yang berbeda.

Lebaran

Masjid Kuno juga menyelenggarakan acara adat Lebaran Adat yakni Lebaran Tinggi pada Hari Idul Fitri dan Lebaran Pendek untuk Hari Idul Adha. Lebaran Tinggi dan Lebaran Pendek dibedakan dari doa yang dibacakan upacara dalam upacara tersebut. Upacara adat Lebaran Pendek adalah upacara adat terakhir dalam tahun tersebut, karena bulan berikutnya kembali ke Bulan Muharam tahun berikutnya.

Tradisi Lebaran Barung Biraq

Ngaji Makam

Masyarakat Kampung Adat Barung Biraq juga menyelenggarakan upacara Ngaji Makam. Upacara adat Ngaji Makam Dayan Lurung dilaksanakan di Hutan Adat Lawangan yang berada di perbatasan Dusun Barung Biraq. Sedangkan Ngaji Makem Lauk Lurung dilaksanakan di Hutan Lokok Tepung yang berada di Dusun Tanjung Biru Desa Loloan Di Hutan lawangan terdapat situs budaya berupa pondasi yang diyakini dulunya adalah bangunan Santren (mushola) dan juga terdapat makam tokoh perintis penyebaran Agama Islam di Barung Biraq. Pada upacara tersebut masyarakat membawa makanan ke Hutan Lawangan dan Hutan Lokok Tepung untuk didoakan dan dinikmati secara bersama-sama. Bersamaan dengan upacara adat Ngaji Makam, warga biasanya melakukan acara adat lainnya seperti ngurisan (memotong rambut bayi) yang dilaksanakn di Gedeng (Rumah adat di sebelah Masjid Kuno) dan di Lokok Ujan.

Budaya Ngaji Makam

NaraHubung :

Kadus Barung Biraq 0823 4051 2881 (Wadi)

Pokdarwis Barung Biraq 0819 0740 5235 (Andri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *