KALIANDA, Lampung Selatan – Suasana malam di Taman Argo Wisata Way Handak, Kalianda, terasa begitu hidup pada Jumat, 24 Oktober 2025. Ratusan siswa Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Wira dan Madya dari berbagai sekolah di Lampung Selatan berkumpul dalam kegiatan Diklat PMR se-Lampung Selatan yang berlangsung selama tiga hari, 24–26 Oktober 2025. Dalam kegiatan ini, Paluma Nusantara turut ambil bagian dengan menghadirkan sesi edukatif bertema lingkungan dan perubahan iklim.
Meski acara yang semula dijadwalkan pukul 19.30 WIB sempat mundur menjadi pukul 20.30 WIB, antusiasme peserta tidak berkurang sedikit pun. Nanang Priyana, Project Manager Paluma Nusantara, tampil membawakan materi tentang perubahan iklim dan mengajak seluruh peserta untuk peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar. Ia menekankan pentingnya langkah kecil yang dapat dilakukan setiap orang, seperti mengurangi penggunaan plastik, memilah dan mengolah sampah rumah tangga, serta menanam pohon di lingkungan masing-masing.

Sekitar 500 siswa mengikuti sesi ini dengan semangat tinggi. Walau sebagian terlihat lelah setelah seharian beraktivitas, semangat mereka tidak padam. Diskusi berlangsung interaktif—para peserta bertanya, berbagi pengalaman, dan menunjukkan tekad untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya. Suasana hangat dan inspiratif itu menjadi bukti bahwa semangat generasi muda Lampung Selatan untuk menjaga bumi masih menyala.
Kegiatan malam itu ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama untuk mengurangi sampah, memilah dan mengolah limbah, serta menanam pohon sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan dan perubahan iklim. Momen ini menjadi simbol bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Namun, semangat perubahan tidak hanya datang dari para siswa. Di sudut lain area kegiatan, sekelompok perempuan dari Desa Canti dan Desa Rajabasa—kelompok usaha kue basah dan frozen food binaan Paluma Nusantara—juga menunjukkan kiprahnya. Dengan membawa semangat “setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik,” mereka membuka bazar produk lokal hasil olahan sendiri selama acara berlangsung.
Berbagai jenis kue tradisional, minuman segar, dan makanan beku siap saji ditawarkan kepada peserta dan panitia. Kehadiran mereka tak hanya menambah semarak suasana, tetapi juga memperkenalkan hasil olahan khas desa kepada khalayak yang lebih luas. Bazar sederhana itu menjadi ruang nyata pemberdayaan, tempat para ibu belajar berjualan, berinteraksi, dan mengembangkan usaha mereka di tengah kegiatan sosial dan edukatif.
Meski cuaca malam sempat berubah-ubah, semangat para ibu tidak luntur. Dengan senyum ramah dan pelayanan hangat, mereka melayani setiap peserta yang datang membeli jajanan desa. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana pemberdayaan ekonomi perempuan bisa berjalan beriringan dengan gerakan sosial dan lingkungan, membangun sinergi antara edukasi, ekologi, dan ekonomi masyarakat lokal.
Melalui kegiatan seperti ini, Paluma Nusantara terus berkomitmen mendorong partisipasi aktif masyarakat—khususnya perempuan—untuk mandiri secara ekonomi dan berdaya secara sosial. Setiap kegiatan menjadi ruang belajar dan berjejaring, menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi dan memperkuat ekonomi lokal bisa dimulai dari hal-hal sederhana, asalkan dilakukan bersama dan dengan sepenuh hati.
