SEKILAS CANTI #3

Harus ditekuni, itulah kata yang terucap ketika kita bertanya kepada Ujang tentang bertani. Bagi Ujang bertani tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Pria yang berusia 43 tahun itu berkutat di dunia pertanian sejak ia masih remaja. Bahkan setelah menikah dan pindah ke Desa Canti 20 tahun lalu, ia tetap bertani karena itulah keahlian yang ia bisa lakukan.
Karena tak memiliki lahan pada saat pindah ke Lampung Selatan yang merupakan tempat kelahiran sang istri, Ujang harus memutar otak mencari lahan untuk bertani demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya Ujang menyewa lahan untuk bertani. Pertanian yang Ujang lakukan merupakan pertanian yang menggunakan pupuk kimia dalam prosesnya.
Melihat Manfaat Air Lindi
Suatu ketika di pagi hari saat duduk di dalam rumahnya, Ujang melihat tanaman sawi yang ditanam oleh istrinya tumbuh dengan baik dan berbeda dari sebelumnya. Lalu kemudian ia mendekati tanaman tersebut dan melihat ada bekas botol air mineral dengan cairan berwarna coklat kehitaman. Ia kemudian bertanya kepada sang istri cairan apa itu. Sang istri pun menjawab bahwa itu air lindi dari sampah organik rumah tangga. Ia kemudian mengobrol dengan istrinya yang bernama Titin mengenai air lindi tersebut. Titin menjelaskan bahwa air lindi tersebut dihasilkan dari maggot yang memakan sampah sisa rumah tangga.
“Kata istri saya, itu air lindi dari ikut kumpul bareng kegiatan SPRINT” ucap Ujang.
Melihat manfaat dari air lindi tersebut ujang kemudian mencoba mengaplikasikannya ke tanaman cabai di kebunnya.
Senang Mempraktekkan Pengetahuan Yang Didapat
Ujang melihat pengaruh air lindi sangat luar biasa. Ia baru mengetahui ternyata sampah rumah tangga bisa memberi manfaat sebesar itu bagi tanaman. Bagi Ujang yang sudah puluhan tahun menjadi petani, ini merupakan pengetahuan baru. Ujang sangat penasaran dengan Program SPRINT yang diikuti oleh istrinya.
Saat pendamping Balam yang bernama Ahmad Rosyid berkunjung ke rumahnya untuk memonitor perkembangan pengelolaan sampah organik tingkat rumah tangga, Ujang langsung bertanya tentang Program SPRINT. dIjelaskan bahwa salah satu kegiatan program SPRINT adalah pendampingan pertanian organik.
“Ikut Program ini karena dikasih tau pak Rosyid, dia bilang ada program bidang pertanian secara organic. Nggak mikir mikir langsung gabung”.
Ujang mempelajari pertanian organik dengan tekun. Selama mengikuti kegiatan di bidang pertanian organik, Ujang mendapat banyak pengetahuan baru. Diantaranya adalah bagaimana merawat tanah, perbedaan sampah buah-buahan, sampah daun-daunan, sampah sayur-sayuran dan sisa makanan rumah tangga dalam pengaplikasian ke tanaman.
Dalam perjalanannya ujang menghadapi masalah dengan tumbuh suburnya rumput di kebun miliknya dan masalah hama yang mengganggu tanamannya. Lalu ujang di kenalkan dengan pestisida nabati dari tanaman Mutun.
“Saya dapat ilmu baru soal pestisida nabati. Jadi kalo ada hama menyerang, kita lihat di sekitar kita, dedaunan apa yang nggak diserang hama, berarti itu penangkal hamanya”.
Ujang adalah pribadi yang senang mempraktekan pengetahuan yang didapat. Ketika ada pengetahuan baru dari Program SPRINT, tanpa menunggu waktu lama ia akan langsung mempraktekannya.
Harapan Dari Bertani Organik
Perkenalan dengan Program SPRINT membuka jalan bagi Ujang dan Istrinya untuk menekan biaya produksi dalam bertani. Ujang juga berupaya menjaga kesehatan keluarganya dengan mengkonsumsi sayuran organik yang diproduksi sendiri.
Dari tetesan air lindi, Ujang menemukan langkah baru dalam perjalanannya sebagai petani. Ia telah melihat bagaimana alam membalas kebaikan dengan cara yang tak terduga. Setiap tetes yang jatuh ke tanah adalah pelajaran, setiap tunas yang tumbuh adalah harapan. Ujang mungkin masih belajar, tapi ia tahu bahwa perubahan dimulai dari keberanian mencoba.

This story tells the journey of Ujang, a 43 year old farmer from Canti Village who has been farming since his teenage years. Initially, he used chemical fertilizers, but his life changed when he noticed his wife’s plants thriving due to lindi water, a liquid derived from organic waste. This piqued his interest and led him to join the MITRA TANGGUH Program, where he learned about organic farming, soil care, and natural pesticides to combat pests.