Rajabasa, 28 November 2025 — Desa Rajabasa menggelar dua kegiatan Balam (Berbagi Pengalaman) dalam satu hari sebagai upaya untuk menggali permasalahan, kendala, serta kebutuhan yang dihadapi kelompok. Rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga untuk memperbaiki sistem kerja sekaligus memperkuat komitmen pengurus dan masyarakat dalam membangun desa yang lebih tangguh.
Balam Bank Sampah: Soroti Menurunnya Partisipasi Warga dan Soliditas Pengurus
Balam Bank Sampah dilaksanakan di depan Aula Balai Desa Rajabasa. Suasana pertemuan berlangsung santai, tetapi diskusi berjalan serius saat pengurus mengutarakan persoalan menurunnya partisipasi masyarakat dalam menyetor sampah. Kondisi ini semakin diperparah dengan melemahnya konsistensi sebagian pengurus dalam menjalankan peran masing-masing.
Dalam kesempatan itu, Nanang Priyana dari Paluma Nusantara memberikan masukan strategis untuk menghidupkan kembali peran Bank Sampah. Ia menekankan pentingnya sosialisasi ulang di tingkat basis, yang melibatkan warga tingkat RT agar pemahaman masyarakat mengenai Bank Sampah kembali meningkat. Ia juga menyoroti perlunya evaluasi internal dan penguatan kapasitas pengurus, memperjelas tugas masing-masing agar operasional berjalan lebih disiplin dan terarah.
Selain itu, Nanang Priyana juga mengingatkan pentingnya memperkuat statuta Bank Sampah sebagai dasar tata kelola, sekaligus mendorong pengurus untuk melengkapi sarana pendukung operasional, seperti peralatan penimbangan dan perbaikan sistem pencatatan. Langkah-langkah ini dinilai penting untuk memastikan Bank Sampah tetap berfungsi optimal dan memberi manfaat nyata bagi kebersihan lingkungan desa.

Balam Destana: Evaluasi Alat Komunikasi dan Tantangan Sinyal Lemah
Menjelang malam, kegiatan Balam berlanjut dengan Destana Desa Rajabasa. Meskipun gerimis sempat turun di awal kegiatan, pertemuan Balam tetap berjalan dihadiri oleh 10 anggota Destana yang menunjukkan komitmen tinggi terhadap penguatan kesiapsiagaan desa.
Diskusi berfokus pada evaluasi alat komunikasi Destana, yang menjadi aspek kunci dalam penanganan kedaruratan dan penyebaran informasi bencana. Dalam forum tersebut, Nanang Priyana kembali menekankan pentingnya HT (Handy Talky) sebagai perangkat komunikasi utama. Ia menanyakan kondisi terkini HT yang sebelumnya diberikan kepada Destana apakah perangkat tersebut masih berfungsi baik, bagaimana penggunaannya selama ini, dan kendala apa saja yang ditemui anggota.
Nanang Priyana menegaskan bahwa HT sangat krusial, terutama untuk memastikan arus informasi dari BPBD ke desa, serta dari desa ke masyarakat, dapat berjalan cepat dan tidak terganggu. Ia mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, sinyal telepon seluler kerap melemah atau bahkan hilang sama sekali.
Setelah penyampaian tersebut, anggota Destana kemudian mengungkapkan masalah lain yang tak kalah penting, yaitu kualitas sinyal seluler yang lemah di beberapa wilayah desa. Kondisi ini membuat komunikasi melalui ponsel sering tersendat atau tidak tersampaikan dengan baik, sehingga semakin mempertegas kebutuhan akan HT sebagai alat bantu komunikasi yang lebih stabil.
Dari hasil diskusi, anggota Destana sepakat untuk melakukan pendataan ulang kondisi HT, memeriksa fungsi perangkat, dan menyusun rencana perbaikan atau pengadaan tambahan penguat sinyal. Penguatan sistem komunikasi menjadi komitmen bersama agar koordinasi kebencanaan di Desa Rajabasa dapat berjalan lebih efektif dan tanggap.
Rangkaian dua Balam dalam satu hari ini menunjukkan komitmen Desa Rajabasa untuk terus memperbaiki tata kelola lingkungan dan kesiapsiagaan bencana. Baik dalam pengelolaan sampah maupun dalam sistem komunikasi Destana, seluruh peserta sepakat bahwa keberlanjutan program memerlukan pengurus yang solid, fasilitas yang memadai, serta partisipasi masyarakat yang terus dijaga.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju Desa Rajabasa yang semakin bersih, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan ke depan.
